Di kelas 12, siswa mulai masuk ke pengelolaan server secara lebih profesional. Mereka tidak hanya memahami cara menginstal sistem operasi server, tetapi juga bagaimana mengelolanya secara penuh, termasuk mengatur layanan (services), membuat user khusus server, dan menjaga performa server agar tetap stabil.
Pada tahap ini, biasanya siswa menggunakan Linux Server seperti Ubuntu Server atau Debian Server. Mereka mempelajari bagaimana sebuah server dapat melayani banyak komputer melalui layanan seperti DHCP, DNS, Web Server, Database Server, dan File Server. Misalnya pada DHCP, siswa belajar membuat server yang secara otomatis memberikan IP Address ke komputer-klien tanpa harus mengatur secara manual. Pada DNS, siswa belajar bagaimana sebuah nama domain diterjemahkan menjadi alamat IP sehingga website atau layanan dapat diakses. Pemahaman tentang web server juga diperkuat, di mana siswa belajar men-deploy website menggunakan Apache atau Nginx. Semua layanan tersebut dikelola melalui terminal sehingga mereka memahami cara kerja server secara mendalam.
Pada kelas 12, siswa diperkenalkan dengan konsep virtualisasi. Virtualisasi memungkinkan satu komputer fisik menjalankan banyak sistem operasi sekaligus. Biasanya digunakan software seperti VMware, VirtualBox, atau Proxmox.
Siswa belajar membuat beberapa mesin virtual sekaligus, misalnya satu VM dijadikan server dan VM lain dijadikan klien, sehingga mereka bisa melakukan praktik jaringan tanpa harus menyediakan banyak perangkat fisik. Virtualisasi memudahkan simulasi jaringan besar, pengujian konfigurasi, serta menjadi keterampilan penting yang digunakan di dunia industri modern, terutama di perusahaan besar dan pusat data.
Di kelas 12, keamanan jaringan (network security) menjadi materi utama karena perusahaan sangat membutuhkan teknisi yang mampu menjaga jaringan tetap aman. Siswa belajar mengenali ancaman seperti serangan malware, sniffing, penyusupan (intrusion), maupun pencurian data.
Salah satu kemampuan penting adalah mengetahui cara kerja firewall, bagaimana firewall dapat memblokir akses yang tidak diinginkan, mengatur port yang boleh digunakan, dan melindungi server maupun jaringan lokal. Selain itu, siswa juga belajar melakukan monitoring trafik jaringan untuk mendeteksi kegiatan yang mencurigakan menggunakan tools seperti Wireshark. Pemahaman tentang enkripsi, VPN, dan keamanan sistem operasi juga diperkenalkan agar siswa mengetahui bagaimana menjaga data tetap aman dalam lingkungan jaringan.
Materi AIJ di kelas 12 tidak lagi sekadar memasang kabel dan mengatur topologi, melainkan mulai mengelola jaringan sebagai sebuah sistem besar. Siswa memahami bagaimana jaringan di dalam perusahaan dikelola, bagaimana administrator mengatur pembagian jaringan menggunakan VLAN, bagaimana router menghubungkan beberapa jaringan, dan bagaimana melakukan troubleshooting ketika ada masalah jaringan.
Biasanya siswa mempraktikkan konfigurasi router dan switch, baik secara fisik maupun menggunakan simulator seperti Cisco Packet Tracer. Siswa mempelajari routing static dan dynamic, misalnya OSPF atau RIP, agar jaringan dapat saling terhubung secara otomatis. Konfigurasi VLAN juga menjadi keterampilan penting karena digunakan untuk membagi jaringan berdasarkan kebutuhan departemen, misalnya jaringan untuk staf administrasi, jaringan untuk laboratorium, dan jaringan untuk siswa.
Di tingkat akhir, siswa TKJ harus mampu merancang jaringan dari awal. Mereka tidak hanya belajar teori, tetapi juga menyusun rencana nyata mulai dari kebutuhan sebuah kantor atau sekolah, membuat rancangan topologi, menyusun daftar peralatan yang dibutuhkan, membuat konsep instalasi, hingga melakukan pemasangan secara langsung.
Dalam proses ini, siswa memahami bagaimana membuat jaringan yang efisien dan aman. Mereka memikirkan pemilihan switch, router, kabel, access point, server, UPS, serta bagaimana memperkirakan biaya proyek. Biasanya ini menjadi dasar pembuatan proyek akhir atau PKL mereka. Siswa juga dilatih membuat dokumentasi jaringan, misalnya catatan IP Address, konfigurasi router, password keamanan, hingga topologi akhir yang rapi.
Banyak sekolah TKJ sekarang memasukkan pengenalan cloud ke materi kelas 12 karena dunia kerja modern banyak memakai layanan cloud seperti AWS, Google Cloud, dan Azure. Siswa memahami bagaimana data dan aplikasi bisa dijalankan di internet tanpa harus memakai server fisik di sekolah.
Pada tahap awal, siswa diperkenalkan dengan konsep seperti VPS (Virtual Private Server), hosting, domain, dan deployment website menggunakan cloud. Ini memperluas pengalaman mereka dari hanya mengelola jaringan di dalam ruangan menjadi mengelola sistem yang bisa diakses dari seluruh dunia.
Di beberapa kurikulum, siswa TKJ kelas 12 diperkenalkan proyek kecil IoT. Mereka belajar bagaimana perangkat seperti sensor suhu, RFID, atau modul WiFi dapat dihubungkan ke jaringan. Ini menjadi dasar untuk sistem otomatis seperti absensi berbasis RFID, monitoring suhu ruangan server, atau smart home. Walaupun tidak sebesar jurusan RPL atau elektronika, materi IoT memberi pemahaman bahwa jaringan bukan hanya untuk komputer, tetapi juga menghubungkan perangkat-perangkat cerdas.